Senin, 20 Februari 2017

Siluman Katak Part2

Orang pintar dari seluruh penjuru kampung kini telah berdatangan. Mbah anang, seorang sesepuh kampung datang bersama kedua orang anak muridnya, Suryana dan Sairi. Suryana dan Sairi adalah anak murid mbah anang yang selalu setia menemani kemanapun orang tua itu pergi.
          Sudah lima tahun mereka berdua menjadi anak murid sekaligus anak buah mbah anang. Meskipun statusnya sebagai anak buah, tidak jarang Suryana dan Sairi berselisih paham dengan Mbah anang karena memang kelakuan orang tua itu sering membuat orang-orang yang masih waras pikirannya seperti Suryana dan Sairi menjadi setengah gila dibuatnya.
          Pernah suatu ketika Suryana dan Sairi ditugaskan untuk membongkar sebuah makam keramat. Terang saja mereka berdua menolak mentah-mentah. Tapi dengan  kecerdikannya, mbah anang berhasil membujuk mereka berdua dengan menjanjikan sebuah keris sakti. Alhasil, bukan keris sakti yang mereka dapatkan melainkan sebuah benjolan kecil dibelakang leher mereka berdua. Orang awam menyebutnya kualat kuburan.           
         
Meski kepalanya sedikit miring, Mbah anang adalah sosok kharismatik dan amat disegani oleh warga kampung, dia adalah seorang jawara di masanya. Matanya tajam, kumisnya terlihat putih kehitaman karena asap tembakau. Semua mata tertuju kepadanya ketika Mbah anang duduk bersedekap.
          Pria sepuh itu tambun dan beruban. Dia juga tidak pernah melewatkan rokok kaung di tangan kanannya, dan ketika dia sedang bicara semuanya yang hadir menjadi hening.
          Setelah beberapa saat kemudian, keluarlah rangkaian kata-kata dari mulut mbah Anang. “Siluman itu sepertinya ingin menyandera jamal.” Ujar Mbah anang. Kakekku yang saat itu terbilang masih hijau hanya mengangguk mendengarkan setiap detail cerita yang disampaikan Mbah anang. Seperti yang diceritakan mbah anang, raja jin itu berumur 912 Tahun, memakai mahkota terbuat dari emas, tangan kanannya memegang tongkat kebesarannya yang juga terbuat dari emas.
          Sekujur tubuhnya berwarna hijau dan mengenakan jubah berwarna merah. Perkasa, tapi sayang seribu sayang, kaki dan tangannya berselaput dan wajahnya tidak segagah raja Arthur, tetap saja siluman katak hijau itu imut seperti Hermit.
“Kalian yang muda-muda dulu. Nanti kalo udah ga sanggup baru abah turun tangan.” Ucapnya sambil meniupkan Asap putih dari mulutnya. Cincin batu akik berukuran besar terlihat di tangan kanannya yang sedang menjepit lintingan rokok daun kaung.
          Kata orang-orang dikampung, di dalam cincin itu terdapat khodam atau jin pendamping Mbah anang yang berupa seekor ular naga. Mengerikan sekali orang tua sepuh ini.
          Suryana sempat berdebat dengan Mbah anang terkait rencananya mengirimkan orang-orang yang masih hijau ke sarang siluman katak. “abah maaf, kita-kita ini masih belum cukup ilmunya buat ngelawan dedemit setingkat raja jin. Apa abah mau mencelakai kami semua?.” ucap Suryana yang gelisah. Dia rupanya telah melakukan penerawangan ke batu besar kemarin sore. “Jangankan saya melawan, melihat ukurannya saja sampai menahan kencing saya”. Protes Suryana wajar, karena kemarin sore dia hampir sawan dikarenakan Raja siluman itu menjulurkan lidahnya yang panjangnya bukan main. Badannya menggigil hanya karena beberapa menit membuka mata batinnya.
          Mbah anang hanya diam membatu dan bersikeras tidak akan turun tangan jika keadaan belum mendesak. Suryana ingin mengundurkan diri seandainya saja tidak melihat ibu Jamal bersujud sambil menangis memohon.
          Karena keadaan mulai mendesak, Suryana yang umurnya  hanya terpaut beberapa tahun dengan kakekku memutuskan memulai operasi penyelamatan jiwa Jamal. Mereka semua berunding kecuali mbah anang, lelaki tua keras kepala itu sepertinya punya tabiat buruk yaitu tidak pernah mau mendengar pendapat orang lain.
“Bang Suryana, apa kita sanggup menghadapi mereka” tanya kakekku
“Iya bang kita ini masih belum punya pengalaman.” tambah jarkasih menanggapi pertanyaan kakekku. “Pengalaman saya baru sebatas menghadapi gangguan tuyul dan genderuwo. Belum pernah saya menghadapi raja jin kafir. Kita semua bisa mati atau gila seperti Jamal.” Imbuhnya
“Saya melakukan ini semua atas dasar  kemanusiaan, seandainya saya punya pilihan lain.” Suryana menjawab dengan perasaan bimbang. Dihelanya nafas dalam-dalam membayangkan keangkeran singgasana siluman katak itu.
“Jika hari ini tidak dibebaskan, jiwa Jamal akan dikurung disana, dan dia bisa jadi orang gila selamanya. Kasihan orang tua nya orang tidak punya, tidak tega saya melihat mereka berdua.” Mereka semua diam tanda setuju dan bimbang, apa boleh buat mereka tidak punya pilihan lain.
          Meskipun terpaksa, persiapan pun segera mereka lakukan walaupun seadanya. Beberapa dari mereka kemudian mengambil segala peralatan yang dibutuhkan untuk operasi penyelamatan.

          Setelah persiapan selesai dilakukan, tim itu yang beranggotakan 6 orang yakni Suryana, kakekku, jarkasih, Sam, Boy, dan Sairi dengan segera mereka semua sepakat untuk membebaskan Jamal dengan segala resiko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar